Tag: Indonesia

  • Willy Aditya: Pengibaran Bendera One Piece Tidak Berarti Melecehkan Simbol Negara

    Willy Aditya: Pengibaran Bendera One Piece Tidak Berarti Melecehkan Simbol Negara

    Ketua Komisi XIII DPR RI Wily Aditya menanggapi fenomena maraknya pengibaran bendera bergambar tengkorak bertopi ala film animasi One Piece yang terjadi belakangan ini di sejumlah daerah di Indonesia.

    Ia menegaskan menegaskan bahwa pengibaran bendera One Piece tidak bisa disamakan dengan tindakan melecehkan simbol negara, apalagi tidak tergolong dalam bendera terlarang seperti bendera separatis atau negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia.

    “Selama tidak melecehkan Merah Putih, misalnya menempelkan simbol One Piece di atasnya, maka itu bukan pelanggaran serius. Saya lihat juga posisinya di bawah Merah Putih,” katanya dalam keterangan tertulis yang dikutip tonggakhukum.com/, di Jakarta, Minggu (3/8/2025).

    Willy pun mengajak publik untuk menyikapi fenomena itu secara proporsional. Semua dilakukan agar masyarakat tidak terjebak dengan pemikiran-pemikiran tertentu. “Membunuh nyamuk tidak perlu menggunakan granat atau mesiu. Responsnya harus tetap proporsional. Jangan sampai kita terjebak dalam provokasi,” ujarnya.

    Dalam kesempatan itu dia juga menggarisbawahi bahwa ekspresi seperti itu biasanya muncul dari kalangan muda yang penuh energi, idealisme, dan keberanian menggugat ketidakadilan. Namun, menurutnya, semangat itu sering kali tidak dibarengi dengan nalar yang cukup.

    “Ekspresinya jadi sporadis, meskipun genuine dan unik,” ujar Politisi Fraksi Partai NasDem ini.

    Willy menekankan bahwa tugas negara adalah menyelenggarakan kehidupan bersama yang berkeadilan dan menyejahterakan warganya. Jika itu bisa diwujudkan, maka ekspresi semacam ini akan kehilangan gaungnya.

    “Kalau negara hadir dengan keadilan dan kesejahteraan, bendera One Piece pun tak akan digubris, karena gugatan itu tak relevan,” ucapnya.

    Meski begitu, ia menolak gagasan untuk merespons aksi ini dengan tindakan represif atau bahkan ajakan dialog langsung kepada pelaku pengibaran.  “Fenomena semacam ini cukup dicermati dan dipahami. Jangan justru terjebak dalam provokasi,” jelasnya.

    Willy mengajak semua pihak untuk memperbaiki kanal-kanal dialog di dalam kehidupan berbangsa.  “Kalau tidak ada dialog, itu bukan bernegara, tapi berkuasa. Jangan-jangan ini muncul karena ruang-ruang dialog tersumbat,” katanya.

    Menutup pernyataannya, Willy berpesan agar masyarakat tetap memperjuangkan keadilan dengan cara yang benar.  “Menggugat ketidakadilan itu bagus, tapi jangan salah alamat. Jangan lupa, Indonesia ini rumah kita. Kalau ada tikus di rumah, jangan rumahnya yang dibakar,” pungkasnya.

  • Orasi Kemerdekaan Palestina, BKSAP Tekankan Pentingnya Solidaritas Seluruh Elemen Bangsa

    Orasi Kemerdekaan Palestina, BKSAP Tekankan Pentingnya Solidaritas Seluruh Elemen Bangsa

    Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Mardani Ali Sera, menyampaikan orasi menggugah dalam Aksi Akbar Bela Palestina yang digelar di Jakarta, Minggu (3/8/2025) pagi. Di hadapan ribuan peserta aksi, Mardani menegaskan pentingnya solidaritas seluruh elemen bangsa terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina.

    “Semua kita adalah pejuang Palestina, (ada) artis, ojol, anak muda, emak-emak di dapur semua kita terus menyuarakan keadilan dan kemerdekaan bagi bangsa Palestina,” ujar Mardani dalam keterangan tertulis kepada tonggakhukum.com/ di Jakarta.

    Dalam orasinya, Mardani juga menyampaikan apresiasi kepada para pemimpin nasional yang secara konsisten membela Palestina di berbagai forum internasional.

    “Presiden kita, Pak Prabowo Subianto, Ketua MPR kita, Pak Ahmad Muzani, Ketua DPR kita, Ibu Puan Maharani, semua bersatu membela Palestina. Di semua fora internasional, Indonesia bersuara memerdekakan Palestina,” tegas Politisi Fraksi PKS ini.

    Aksi ini juga menyoroti momentum penting yang akan terjadi dalam waktu dekat. Mardani menyampaikan harapan besar pada Sidang Majelis Umum PBB bulan September 2025, di mana sejumlah negara besar seperti Prancis, Kanada, dan Inggris dikabarkan akan menyatakan dukungan atas kemerdekaan Palestina.

    “Doakan September nanti akan ada General Assembly di PBB. Insya Allah Palestina merdeka. Allahu akbar, Allahu akbar! Sudahkah kita menyiapkan diri menjadi barisan yang tercatat? Barisan yang membantu kemerdekaan Palestina, bukan hanya dengan kata, tapi juga aksi nyata.” seru Mardani penuh semangat.

    Aksi ini menunjukkan bahwa isu Palestina tetap menjadi perhatian serius rakyat Indonesia. Semangat solidaritas lintas kelompok, usia, dan profesi memperlihatkan bahwa dukungan terhadap Palestina adalah nilai moral dan kemanusiaan yang melekat kuat dalam jati diri bangsa.

  • MPR dan LATS Gelar Sarasehan Kebudayaan: Bale Ngaji Diangkat Jadi Simbol Perlawanan Terhadap Krisis Moral

    MPR dan LATS Gelar Sarasehan Kebudayaan: Bale Ngaji Diangkat Jadi Simbol Perlawanan Terhadap Krisis Moral

    Di tengah derasnya arus perubahan sosial dan krisis nilai yang melanda generasi muda, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) bersama Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) mencoba kembali ke akar, melalui sarasehan kebudayaan bertajuk “MPR RI dan Gerakan Kebudayaan: Merajut Keindonesiaan, Menjawab Tantangan Zaman”, yang digelar di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat, Rabu (30/7/2025).

    Kegiatan yang mengangkat kembali “bale ngaji” sebagai simbol perlawanan terhadap krisis moral ini, selain dihadiri ratusan peserta dari kalangan pendidik, budayawan, tokoh adat, dan forum lintas etnis, juga menghadirkan H. Johan Rosihan, ST, Wakil Ketua Badan Anggaran MPR RI, sekaligus Anggota DPR RI Dapil NTB 1 (Pulau Sumbawa).

    Johan Rosihan yang tampil sebagai pembicara utama menyampaikan bahwa bale ngaji bukan sekadar tempat belajar membaca Alquran.  Tetapi, di Tana Samawa telah lama menjadi ruang pembentukan karakter dan etika sosial. Di sana, anak-anak tidak hanya diajarkan ayat suci, tetapi juga adab kepada orang tua, sopan santun terhadap sesama, hingga rasa malu sebagai pengendali diri.

    “Bale ngaji adalah rumah cahaya.  Di sana ada adab, ada penghormatan pada ilmu, ada ketundukan kepada guru, dan yang terpenting: ada tameng dari gelapnya zaman,” tegasnya.

    Dalam kesempatan itu, Johan menyampaikan kegelisahannya terhadap makin longgarnya ikatan nilai dalam masyarakat, terutama di kalangan muda. Menurutnya, bale ngaji dapat menjadi salah satu instrumen paling relevan untuk mengembalikan kekuatan karakter bangsa, terutama dalam menghadapi ancaman nyata seperti penyebaran narkoba yang kian menyasar anak-anak usia sekolah dasar.

    Objektifikasi Krik Selamat Tau Samawa

    Dalam sesi berbeda, Ketua Pejatu LATS, Dr. Ihsan Syafitri, menyampaikan pentingnya aktualisasi falsafah hidup orang Samawa. Ia menyinggung Krik Selamat Tau Samawa, sebuah konsep malu spiritual yang bersandar pada keyakinan: “Kengila ko Nene, Katakit Boat Lenge”—malu kepada Allah SWT, takut melakukan hal-hal buruk.

    “Nilai ini bukan slogan. Ia adalah pedoman hidup. Bila semua generasi muda mengamalkannya, maka kita tak perlu takut akan masa depan negeri ini,” tegas Ihsan.

    Sakeco dan Pesona Budaya Lokal

    Sebagai penanda bahwa tradisi bukan milik masa lalu, dua siswi SMAN 3 Sumbawa Besar membawakan sakeco, seni tutur khas Samawa yang merangkai puisi rakyat (lawas-lawas) dalam irama dan langgam lokal. Suara mereka mengalun lembut sekaligus penuh tekanan makna, menyita perhatian peserta dan menyuguhkan suasana yang jauh dari seremonial.

    Sakeco bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah warisan kultural yang menyimpan memori kolektif masyarakat, mengingatkan bahwa di balik setiap tradisi, ada kebijaksanaan yang bisa menjawab persoalan hari ini.

    Sarasehan sendiri berlangsung cair namun penuh substansi. Ratusan peserta dari berbagai kalangan berdiskusi soal nasib kebudayaan di tengah zaman digital dan dominasi pasar. Di akhir sesi, para pendidik dan tokoh adat sepakat untuk mendorong kembali peran bale ngaji sebagai ruang edukasi moral sekaligus benteng sosial dari dalam masyarakat itu sendiri.

    Johan Rosihan menutup sarasehan dengan ajakan untuk membumikan kembali nilai-nilai luhur yang hidup di masyarakat, serta menjadikan kebudayaan sebagai instrumen strategis memperkuat keindonesiaan.

    “Konstitusi sudah menegaskan bahwa negara wajib memajukan kebudayaan nasional. Sekarang, mari kita jadikan masyarakat sebagai pelaku utama dalam gerakan kebudayaan yang beradab dan berkeadilan,” pungkasny

  • Eddy Soeparno Ajak Diaspora Dukung Program Prabowo: Juru Bicara Kemajuan Indonesia

    Eddy Soeparno Ajak Diaspora Dukung Program Prabowo: Juru Bicara Kemajuan Indonesia

    Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menjadi nara sumber dalam rangkaian acara Kongres Diaspora Indonesia ke-8 yang dilaksanakan di Ibu Kota Nusantara (IKN).

    Dalam sambutannya, Eddy menyampaikan apresiasi atas peran dan kiprah Diaspora Indonesia dalam memberikan kontribusi untuk bangsa.

    “Data menunjukkan, pada tahun 2022, diaspora Indonesia mengirimkan remitansi yang mencapai hampir USD 9,71 miliar. Uang ini tidak hanya mengalir ke keluarga mereka, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, membantu memberdayakan UMKM, dan membuka peluang kerja di daerah asal,” jelasnya.

    Eddy menyampaikan pentingnya meningkatkan potensi Diaspora Indonesia dalam upaya memperkuat ekonomi nasional sekaligus mendukung program-program Presiden Prabowo.

    “Dari sisi remitansi misalnya, Diaspora Indonesia memang tinggi namun jumlahnya masih di bawah India, China dan bahkan Filipina. Namun, masih ada kesempatan untuk terus berupaya optimal meningkatkan pendapatan dengan pengelolaan Diaspora Indonesia yang lebih baik ke depannya,”

    Secara khusus, Doktor Ilmu Politik UI ini mengajak Diaspora menjadi juru bicara untuk program-program Presiden Prabowo dan juga menyampaikan visi Indonesia menjadi negara maju.

    “Seperti misalnya menjadi juru bicara bagi Pembangunan IKN di luar negeri, menepis segala persepsi negatif tentang pembangunan Ibu Kota Nusantara ini. Bahkan lebih jauh dari itu bisa juga menarik investasi dari luar untuk membangun IKN,” lanjutnya.

    Waketum PAN ini juga mendorong kolaborasi antara akademisi, peneliti, dan profesional diaspora dengan institusi di Indonesia akan mempercepat transfer teknologi dan inovasi.

    “Program kolaborasi riset antar-universitas, seminar internasional, dan beasiswa bagi peneliti diaspora untuk berkontribusi di Indonesia adalah beberapa inisiatif yang perlu dilakukan,” ungkapnya.

    “Rasanya kita perlu menghadirkan dan melibatkan diaspora dalam diplomasi ekonomi dan budaya.  mempromosikan produk, budaya, serta meningkatkan hubungan perdagangan Indonesia dengan negara-negara tempat mereka tinggal,” tutupnya.

  • Akbar Supratman Apresiasi Presiden Prabowo atas Amnesti untuk Hasto dan Abolisi untuk Tom Lembong

    Akbar Supratman Apresiasi Presiden Prabowo atas Amnesti untuk Hasto dan Abolisi untuk Tom Lembong

    Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, AM Akbar Supratman, mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang mengusulkan pemberian amnesti kepada Sekretaris Jenderal PDI-P, Hasto Kristiyanto, serta abolisi untuk mantan Menteri Perdagangan, Thomas Trikasih Lembong (Tom Lembong).

    Menurut Akbar, keputusan tersebut menunjukkan sikap kenegarawanan Presiden dan menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas nasional di tengah dinamika politik pasca pemilihan umum.

    “Keputusan ini dilakukan Presiden Prabowo demi menjaga keutuhan dan kepentingan bangsa,” ujar Akbar dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (1/8/2025).

    Ia menilai, langkah tersebut penting untuk menghindari potensi perpecahan sosial-politik akibat proses hukum yang menyita perhatian publik. Selain itu, ia juga mengapresiasi sikap responsif Wakil Ketua DPR RI, Prof Sufmi Dasco Ahmad, dalam merespons usulan Presiden tersebut.

    “Prof Dasco menunjukkan perhatian besar terhadap pentingnya penegakan hukum yang adil, dengan tetap mempertimbangkan kepentingan nasional secara menyeluruh,” kata politisi asal daerah pemilihan Sulawesi Tengah itu.

    Akbar menyebut pemberian amnesti dan abolisi ini sebagai keputusan yang tepat dan diperlukan dalam situasi politik saat ini yang menuntut keteduhan dan semangat rekonsiliasi.

    “Di tengah tantangan polarisasi dan ketegangan politik pasca pemilu, Presiden Prabowo menunjukkan bahwa negara ini bisa besar karena pemimpinnya memelihara semangat persatuan, bukan memperluas perpecahan,” ujar Akbar.

    Ia berharap kebijakan tersebut menjadi awal proses rekonsiliasi nasional yang lebih luas, sekaligus mendorong terciptanya iklim demokrasi yang lebih sehat. Akbar juga mengajak para tokoh yang terlibat, seperti Hasto dan Tom Lembong, untuk menjadikan momen ini sebagai landasan dalam membangun kembali kepercayaan publik.

    “Perbedaan pandangan politik tidak boleh lagi menjadi alasan kriminalisasi. Demokrasi yang matang justru tumbuh dari ruang perbedaan yang dikelola dengan bijak dan penuh tanggung jawab,” tegasnya.

    Latar Belakang

    Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah mengajukan permintaan resmi kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI terkait pemberian amnesti dan abolisi tersebut. Pengajuan ini mengacu pada Pasal 14 Ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan bahwa pemberian amnesti dan abolisi memerlukan pertimbangan dari DPR.

    Tom Lembong dijatuhi vonis 4,5 tahun penjara dalam kasus korupsi impor gula saat menjabat Menteri Perdagangan. Ia kemudian mengajukan banding. Jika abolisi disetujui, seluruh proses hukum terhadapnya akan dihentikan.

    Sementara itu, Hasto Kristiyanto divonis 3,5 tahun penjara karena terbukti memberikan suap kepada mantan Komisioner KPU RI, Wahyu Setiawan, dalam rangka pengurusan pergantian antarwaktu anggota DPR untuk Harun Masiku. Amnesti yang diberikan akan menghapuskan seluruh hukuman terhadap Hasto.

  • Kunjungi IMCINE Meksiko, IBAS: Kolaborasi Festival dan Digital untuk Bangun Masa Depan Film Nasional

    Kunjungi IMCINE Meksiko, IBAS: Kolaborasi Festival dan Digital untuk Bangun Masa Depan Film Nasional

    Wakil Ketua MPR RI dari Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas/EBY) mendorong kolaborasi dan pengembangan potensi besar industri perfilman Indonesia dan Meksiko. Kolaborasi film dan karya seni ini akan semakin memperkaya wawasan serta memperkenalkan film Indonesia-Meksiko ke kancah internasional. Ia menekankan pentingnya festival film dan pemanfaatan teknologi digital untuk membangun masa depan perfilman nasional.

    Hal tersebut disampaikan Edhie Baskoro yang juga Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI ketika mengunjungi Instituto Mexicano de Cinematografía (IMCINE), lembaga perfilman resmi milik negara yang merupakan bagian dari Kementerian Kebudayaan Meksiko di Mexico City (29/7/25).

    Fungsi utama IMCINE adalah memproduksi film nasional, pameran dan promosi film Meksiko, pelestarian arsip film, hingga edukasi bidang audiovisual. Lembaga ini mendukung proyek film melalui pendanaan terbuka (open calls). Siapa pun yang memiliki proyek film dapat mendaftar untuk mendapatkan dukungan finansial.

    EBY Wakil Rakyat dari Partai Demokrat ini menyampaikan bahwa kebudayaan adalah nafas bangsa, diplomasi adalah wajahnya. “Kami hadir dari Tanah Air Indonesia, negeri ribuan pulau, ribuan bahasa, yang satu dalam semangat: harmoni dalam keberagaman,” ungkapnya.

    Dr. Edhie Baskoro Yudhoyono lulusan S3 IPB University ini menyampaikan bahwa seni, budaya, dan kreativitas adalah jembatan kemanusiaan.

    “Meksiko dan Indonesia, dua negeri kaya sejarah, bertemu dalam semangat luhur yang tak bisa dibeli: keindahan, keberagaman, dan jati diri.”

    Edhie Baskoro yang juga merupakan eksekutif produser dari film Indonesia “Gak Nyangka..!!” yang baru-baru ini berlayar di bioskop nasional, pada kesempatan ini menyampaikan harapannya agar Indonesia dan Meksiko dapat menjalin berbagai kerja sama di bidang kreatif, khususnya perfilman.

    “Kami sangat mengharapkan adanya kerja sama antara Indonesia dan Meksiko, mulai dari festival budaya bersama; kolaborasi film, animasi dan musik tradisional; pertukaran seniman dan pelajar kreatif; hingga promosi dari tagline kami ‘Wonderful Indonesia’ dan inclusive creative economy (ekonomi kreatif yang inklusif).”

    “Saya percaya kita dapat meningkatkan kerjasama melalui festival film yang melibatkan karya dari kedua negara. Festival ini dapat menjadi platform yang baik untuk memperkenalkan film dan budaya Indonesia dan Meksiko ke audiens internasional.”

    Edhie Baskoro Wakil Ketua Umum Partai Demokrat ini pun menyampaikan apresiasi tingginya kepada Kementerian Kebudayaan Meksiko khususnya IMCINE yang telah bersedia membuka ruang dialog dan kolaborasi.

    “Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Kementerian Kebudayaan Meksiko (IMCINE), yang telah membuka ruang dialog dan kolaborasi antarbangsa.”

    Lebih lanjut, EBY juga menyampaikan apresiasinya kepada Meksiko atas kontribusinya dalam industri hiburan Indonesia melalui hadirnya bioskop Cinepolis.

    “Tak lupa, kami juga menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Meksiko atas kontribusi dan kepercayaannya dalam berinvestasi di industri hiburan Indonesia melalui hadirnya jaringan bioskop Cinepolis. Hal ini menunjukkan komitmen Meksiko dalam memperkuat ekosistem perfilman Indonesia dari sisi infrastruktur dan akses tontonan publik.”

    Selama kunjungannya, Ibas Wakil Rakyat dari Dapil Jatim VII yang juga sangat menggemari karya seni film ini kemudian menyampaikan beberapa telenovela Meksiko yang populer dan terkenal di Indonesia.

    “Karya-karya telenovela Meksiko yang populer dan terkenal di Indonesia antara lain adalah Marimar, Rosalinda, Maria Mercedes, Esmeralda, dan Carita de Ángel.” “Telenovela ini dikenal karena alur ceritanya yang menarik, seringkali melibatkan kisah cinta, drama keluarga, dan intrik yang kompleks. Sehingga sangat digemari masyarakat Indonesia,” katanya.

    Akhirnya, EBY menekankan bahwa kunjungan ini membuka jalan bagi kolaborasi yang lebih erat antara Indonesia dan Meksiko di bidang perfilman.

    “Ini bukan hanya tentang produksi film, tetapi juga tentang pertukaran karya seni perfilman yang akan semakin memperkaya wawasan. Saya yakin, dengan kekuatan yang kita miliki, industri film Indonesia dan Meksiko dapat maju, berkembang lebih jauh,” pungkasnya.

    Dalam kunjungan ini, Edhie Baskoro hadir bersama Anggota Group Kerjasama Bilateral (GKSB) DPR RI lainnya, di antaranya ada Nafa Urbach yang juga aktris sekaligus produser dari beberapa film nasional salah satunya film horor “Ngunduh Jiwo”.

    Anggota GKSB lainnya yang hadir ada Herman Khaeron, Fathi, Umbu Kabunang, Bramantyo, Dini Rahmania, dan Jefry Romdonny.

  • Arzeti Bilbina Desak Pemerintah Bertindak Cepat Hadapi Badai PHK

    Arzeti Bilbina Desak Pemerintah Bertindak Cepat Hadapi Badai PHK

    Anggota Komisi IX DPR RI, Arzeti Bilbina, mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah nyata dalam menghadapi ancaman gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terus meningkat di berbagai sektor industri di Indonesia.


    “Angka PHK yang terus bertambah adalah kenyataan pahit yang harus segera ditangani. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada ekonomi makro, tetapi juga kehidupan jutaan keluarga. Pemerintah harus hadir dengan solusi nyata dan bergerak cepat,” kata Arzeti kepada tonggakhukum.com/ di Jakarta, Jumat (1/8/2025).


    Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Ketenagakerjaan, jumlah pekerja yang terkena PHK selama Januari hingga Juni 2025 mencapai 42.385 orang. Jumlah ini meningkat sebesar 32 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.


    “Data ini tidak bisa dianggap remeh. Pemerintah harus segera turun tangan untuk mencegah angka PHK semakin meningkat. Dengan intervensi yang tepat, saya yakin badai PHK ini bisa mereda,” tegas Politisi Fraksi PKB ini.


    Arzeti menyebut sejumlah opsi yang dapat diambil pemerintah untuk menahan laju PHK dan menjaga keberlangsungan lapangan kerja, termasuk memberikan insentif kepada sektor padat karya seperti keringanan pajak. Ia juga mendorong pengembangan sektor-sektor potensial seperti teknologi, pariwisata, dan ekonomi digital guna menciptakan lapangan kerja baru.


    “Stimulus ekonomi yang lebih agresif juga diperlukan. Pemerintah bisa meningkatkan belanja di sektor strategis seperti infrastruktur dan pengembangan UMKM. Dengan begitu, akan terbuka peluang kerja baru bagi para korban PHK,” lanjutnya.


    Ia juga menyoroti pentingnya peran Satuan Tugas (Satgas) PHK yang dibentuk pemerintah. Arzeti berharap satgas tersebut dapat berfungsi secara maksimal, tidak hanya sebagai reaksi terhadap kasus PHK yang telah terjadi, namun juga sebagai garda depan dalam pemetaan dan mitigasi risiko PHK di sektor-sektor yang rentan.


    “Satgas PHK harus lebih aktif dan responsif. Mereka harus bisa mengidentifikasi potensi risiko lebih awal dan memberikan dukungan yang diperlukan kepada pelaku usaha agar tidak melakukan PHK massal,” ujarnya.


    Arzeti menekankan bahwa sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sangat penting untuk mengatasi ancaman PHK secara komprehensif. “Pemerintah harus menjadi motor penggerak, tapi pengusaha dan masyarakat juga harus turut berperan aktif. Kita harus segera ambil langkah agar tidak terjebak dalam lingkaran pengangguran yang berkepanjangan,” tandasnya.

  • Dasco: Pemblokiran Rekening untuk Selamatkan Uang Nasabah

    Dasco: Pemblokiran Rekening untuk Selamatkan Uang Nasabah

    Kebijakan pemblokiran rekening dormant atau tidak aktif yang dilakukan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menuai reaksi dari kalangan legislatif. Merespon hal tersebut, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyebut bahwa kebijakan blokir rekening pasif (dormant) yang dilakukan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) justru untuk melindungi terhadap rekening-rekening nasabah yang tidak melakukan transaksi dalam jangka waktu tertentu tersebut.

    "Kami juga sudah mengkonfirmasikan kepada PPATK terhadap langkah-langkah yang diambil oleh PPATK, dan kami mendapat penjelasan sebagai berikut bahwa PPATK justru ingin melindungi rekening-rekening nasabah yang diduga dormant," kata Dasco dalam rilisnya yang dikutip tonggakhukum.com/, di Jakarta, Jumat (1/8/2025.

    Sebab, lanjutnya, rekening-rekening nasabah yang diduga dormant itu meski tidak digunakan untuk transaksi debet atau kredit kerap kali tetap dikenakan biaya administrasi. “Karena rekening-rekening nasabah yang diduga dormant itu, yang namanya uang administrasi itu tetap diambil, tetapi kemudian bunga-bunga yang dibayar itu tidak diberikan. Itu hak nasabahnya tidak diberikan,” ujarnya.

    Berdasarkan konfirmasi dengan PPATK, Dasco menyebut kebijakan blokir rekening itu dilakukan dalam rangka memberantas judi online. Sebab rekening pasif tersebut kerap dijadikan untuk menampung transaksi judi online.

    “PPATK juga menemukan dormant-dormant itu ada yang berasal dari jenis-jenis kejahatan seperti judi online,” ucapnya.

    Oleh karena itu, Dasco menyebut bahwa apabila nasabah keberatan dengan penghentian sementara PPATK tersebut dapat melakukan konfirmasi untuk dibuka kembali.

    “Sehingga PPATK kemudian membekukan sementara, menunggu konfirmasi dari pemilik rekening tentunya, dan itu menurut PPATK tidak susah ketika untuk mengaktifkan kembali. Sehingga nasabah-nasabah itu juga tahu bahwa rekeningnya selama ini apakah aman atau tidak aman, berkurang atau tidak berkurang,” jelasnya.

    Terhadap polemik yang berkembang di masyarakat, Dasco pun kembali menggarisbawahi bahwa kebijakan PPATK tersebut justru dimaksudkan untuk menyelamatkan uang nasabah. “PPATK melakukan langkah-langkah justru untuk menyelamatkan uang nasabah,” pungkasnya. 

  • PPATK Bekukan Rekening Dormant, Habib Aboe: Berantas Judi Online dan Kejahatan Keuangan!

    PPATK Bekukan Rekening Dormant, Habib Aboe: Berantas Judi Online dan Kejahatan Keuangan!

    Anggota Komisi III DPR RI, Habib Aboe Bakar Alhabsyi, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang menghentikan sementara transaksi pada rekening dormant (tidak aktif). Hal itu, menurutnya, demi melindungi hak dan kepentingan pemilik sah rekening serta menjaga integritas sistem keuangan nasional. 

    Pria yang kerap disapa Habib Aboe ini pun mengapresiasi objektivitas PPATK dalam mengambil kebijakan ini, mengingat maraknya penyalahgunaan rekening dormant untuk berbagai tindak pidana.

    “Langkah PPATK untuk mengamankan rekening dormant adalah tindakan yang tepat dan objektif. Data menunjukkan bahwa banyak rekening tidak aktif yang disalahgunakan untuk menampung dana hasil kejahatan seperti narkotika, korupsi, hingga peretasan,” ujar Habib Aboe dalam keterangan tertulis yang diterima tonggakhukum.com/, di Jakarta, Kamis (31/7/2025).

    PPATK menemukan lebih dari 140 ribu rekening dormant dengan nilai total Rp 428,6 miliar yang tidak ada pembaruan data nasabah, membuka celah besar untuk praktik pencucian uang dan kejahatan lainnya. Selain itu, sejak tahun 2020, PPATK telah menganalisis lebih dari 1 juta rekening yang diduga terkait tindak pidana, di mana lebih dari 150 ribu di antaranya adalah rekening nominee yang diperoleh dari jual beli rekening atau peretasan. 

    Bahkan, ditemukan lebih dari 10 juta rekening penerima bantuan sosial yang tidak pernah dipakai selama lebih dari 3 tahun, dengan dana mengendap sebesar Rp 2,1 triliun, mengindikasikan penyaluran yang belum tepat sasaran.

    Habib Aboe menekankan pentingnya sinergi antara PPATK, perbankan, dan masyarakat untuk terus memberantas judi online dan beragam tindak pidana penyalahgunaan rekening. “Pemberantasan judi online dan kejahatan keuangan lainnya adalah prioritas. Kebijakan PPATK ini adalah salah satu instrumen penting dalam perang kita melawan kejahatan tersebut,” tegasnya.

    Politisi Fraksi PKS ini juga mengimbau masyarakat untuk proaktif dalam menjaga rekening mereka. “Jika menerima notifikasi rekening dormant, segera hubungi bank untuk proses verifikasi. Ini demi keamanan data dan keuangan Anda. Mari jaga rekening kita, jaga Indonesia dari kejahatan keuangan,” tutup Habib Aboe Bakar Alhabsyi.

  • Lestari Moerdijat: Upaya Perlindungan terhadap Korban TPPO Harus Dikedepankan

    Lestari Moerdijat: Upaya Perlindungan terhadap Korban TPPO Harus Dikedepankan

    Keberpihakan terhadap korban dalam tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang kerap melibatkan perempuan harus dikedepankan, sebagai bagian perlindungan negara kepada setiap warganya.

    “Pada kasus-kasus TPPO yang kerap menyasar perempuan seringkali terjadi praktik kriminalisasi terhadap korban. Kondisi ini harus segera diatasi dengan mengedepankan langkah perlindungan bagi korban,” kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Jumat (1/8).

    Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2020–2024 mengungkapkan 267 kasus TPPO  melibatkan perempuan sebagai korban.

    Komnas Perempuan juga menyoroti masih terjadinya praktik kriminalisasi terhadap korban TPPO, antara lain perempuan korban justru dipermasalahkan dokumennya, dideportasi, atau dikriminalisasi akibat situasi eksploitasi yang dialaminya.

    Menurut Lestari, kondisi tersebut harus segera diatasi agar upaya perlindungan menyeluruh bagi setiap warga negara, termasuk perempuan, dapat diwujudkan.

    Rerie, sapaan akrab Lestari, berpendapat, respons terkait perkembangan sejumlah modus dan tujuan  TPPO yang terjadi saat ini harus mampu diantisipasi dengan langkah-langkah sistematis.

    Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI menilai, langkah antisipasi tersebut membutuhkan dukungan sejumlah pihak, mengingat modus baru TPPO berkembang dengan cepat memanfaatkan teknologi digital.

    Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu berharap negara tidak abai dengan perkembangan kasus-kasus TPPO yang mengancam perempuan, anak, dan kelompok masyarakat marjinal.

    Menurut Rerie, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, menjamin hak-hak dasar setiap warga negara dan memberikan dasar hukum bagi perlindungan HAM.

    Karena itu, tegas dia, negara wajib melindungi setiap warga negara dari berbagai ancaman terhadap hak-hak dasar mereka