Blog

  • Terima Aspirasi NGO, Eddy Soeparno Bicara Urgensi Payung Hukum Percepat Transisi Energi

    Terima Aspirasi NGO, Eddy Soeparno Bicara Urgensi Payung Hukum Percepat Transisi Energi

    Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, menegaskan pentingnya percepatan pembentukan payung hukum di sektor energi terbarukan dan kelistrikan untuk mendukung transisi energi berkelanjutan.

    Hal tersebut disampaikan Eddy saat menerima audiensi Institute for Essential Services Reform (IESR) di Ruang Rapat Pimpinan, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (11/8/2025) siang.

    “Kita perlu segera memiliki payung hukum untuk energi terbarukan dan ketenagalistrikan. Fokus kami saat ini adalah pelaksanaan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk periode 2025 sampai 2034, yang menargetkan penambahan kapasitas 70 gigawatt dalam 10 tahun. Itu merupakan pekerjaan yang besar dan kompleks tapi juga merupakan keniscayaan,” ujar Eddy.

    Menurut Anggota Komisi XII DPR RI ini, skema investasi yang menarik bagi pihak swasta juga perlu diimplementasikan, termasuk kebijakan pembelian listrik yang realistis agar dapat dukungan pembiayaan dari perbankan.

    “Pengembangan jaringan listrik dan infrastruktur pendukung juga menjadi hal penting, mengingat tingkat pengembalian investasi yang masih rendah di sektor tersebut,” lanjutnya.

    Kepada IESR, Doktor Ilmu Politik UI ini menjelaskan bahwa MPR berperan sebagai akselerator, integrator, dan fasilitator untuk menjembatani komunikasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas dalam mengurai hambatan transisi energi.

    “Kami percaya komunikasi dan kolaborasi menjadi poin penting dalam mengurai berbagai hambatan transisi energi. Di MPR kami menjadi titik temu agar kebijakan publik berbasis pada aspirasi masyarakat,” lanjutnya.

    Dalam kesempatan yang sama, Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menyampaikan usulan terkait penyusunan Undang-Undang Ketenagalistrikan dan RUU Energi Baru dan Terbarukan (RUU EBET).

    “Kami berharap dengan adanya masukan ini dapat disampaikan juga dalam pembahasan kedua peraturan perundang-undangan di DPR, dan kami berharap jua bisa dijadikan referensi untuk MPR dan DPR,” tutur Fabby.

    Menanggapi hal itu, Eddy mengapresiasi masukan yang diberikan oleh IESR dan berkomitmen untuk menindaklanjutinya bersama badan keahlian.

    “Masukan ini akan menjadi bahan pembahasan prioritas legislasi, termasuk RUU EBET dan Undang-Undang Ketenagalistrikan,” ungkap Wakil Ketua Umum PAN ini.

    Pertemuan ini ditutup dengan saling kesepahaman untuk melanjutkan dialog serta memperkuat kerja sama lintas pihak guna mempercepat transisi energi dan pembangunan ekonomi rendah karbon di Indonesia.

  • Cellica: Stunting di NTT Perlu Intervensi Lintas Sektor

    Cellica: Stunting di NTT Perlu Intervensi Lintas Sektor

     Anggota Komisi IX DPR RI Cellica Nurrachadiana menegaskan bahwa permasalahan stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menempati peringkat pertama di Indonesia harus menjadi perhatian serius dengan melibatkan kolaborasi lintas sektor.

    “Stunting di NTT ini krusial dan memerlukan intervensi dari semua pihak. Kita harus bersama-sama menurunkan angka stunting,” ujar Cellica saat kunjungan kerja reses Komisi IX DPR RI ke Kupang, NTT, Senin (11/8/2025).

    Cellica mengungkapkan, salah satu masalah utama adalah ketidaktersediaan vaksin bagi bayi yang baru lahir. Persoalan ini akan menjadi bahan pembahasan Komisi IX dengan Kementerian Kesehatan agar pemerataan layanan kesehatan, termasuk ketersediaan obat, sarana-prasarana, SDM, digitalisasi, dan vaksin, dapat terealisasi hingga ke daerah terpencil seperti NTT.

    Selain itu, ketersediaan tenaga kesehatan juga menjadi perhatian. Saat ini, ketersediaan SDM baru mencapai 29%, sehingga 71% puskesmas masih kekurangan tenaga medis. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan dalam pelaksanaan program pemeriksaan kesehatan gratis yang membutuhkan sumber daya manusia unggul di setiap layanan kesehatan primer.

    Cellica juga menyoroti fenomena banyaknya pekerja migran perempuan asal NTT, sebagian besar lulusan SD, yang bekerja di luar negeri. Menurutnya, fenomena ini berpengaruh pada pola asuh anak dan dapat menjadi salah satu faktor penyebab stunting. Ia mendorong pendataan yang akurat dan intervensi berbasis data untuk mengatasi persoalan tersebut.

    Dalam upaya menekan stunting, Cellica mendukung pemanfaatan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah rawan stunting agar program benar-benar tepat sasaran.

    “Semua poin yang kita bahas hari ini harus menjadi referensi penting untuk perbaikan ke depan. Dengan kolaborasi yang baik antara pemerintah pusat, daerah, dan mitra Komisi IX, saya optimis NTT bisa lebih maju dan angka stunting bisa ditekan,” pungkasnya.

  • Anis Byarwati Dorong Transparansi Metodologi PDB untuk Jaga Kredibilitas BPS

    Anis Byarwati Dorong Transparansi Metodologi PDB untuk Jaga Kredibilitas BPS

    Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati, menanggapi rilis Badan Pusat Statistik (BPS) terkait pertumbuhan ekonomi Triwulan II-2025 yang mencapai 5,12 persen (yoy). Meskipun capaian tersebut patut diapresiasi, ia mengingatkan adanya perbedaan antara angka pertumbuhan yang dirilis dengan sejumlah indikator ekonomi sektoral yang justru menunjukkan perlambatan, seperti pertumbuhan kredit, penerimaan pajak, dan peningkatan angka pemutusan hubungan kerja (PHK).

    “Kami tentu senang dan mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi ini, apalagi lebih tinggi dibandingkan Triwulan I-2025 yang sebesar 4,87 persen. Beberapa sektor utama seperti industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan mencatatkan pertumbuhan positif, begitu pula dari sisi pengeluaran, yakni konsumsi, investasi, dan ekspor,” jelas Anis dalam keterangan tertulis yang diterima tonggakhukum.com/, di Jakarta, Selasa (12/8/2025).

    Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga kredibilitas data BPS, mengingat lembaga tersebut menjadi rujukan utama bagi pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat. Menurutnya, integritas data menjadi modal utama dalam proses pembangunan, sehingga perlu dijaga dengan transparansi dan akuntabilitas.

    “Tidak bisa kita pungkiri bahwa dalam proses penyajian data, seringkali ada multi interpretasi jika dibandingkan dengan kondisi riil di lapangan. Jika BPS bisa meyakinkan publik melalui penjelasan yang transparan, akuntabel, dan dengan metode yang diakui, maka keraguan seperti saat ini bisa dihindari,” tegasnya.

    Politisi Fraksi PKS ini juga menilai, untuk menjaga kepercayaan publik, BPS dapat membuka metadata hingga metodologi perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB) yang digunakan, termasuk sumber data, pembobotan sektor, dan metode estimasi yang bisa diverifikasi oleh pihak independen.

    “Langkah ini bukan untuk meragukan BPS, justru akan memperkuat posisinya sebagai lembaga negara yang akuntabel. Sehingga pertanyaan publik tentang kesenjangan antara data pertumbuhan dengan indikator sektoral dapat terjawab tuntas,” tandasnya.

    Ia menutup pernyataannya dengan keyakinan bahwa komitmen dan integritas BPS yang selama ini teruji dapat terus dipertahankan, sehingga publik memperoleh data ekonomi yang benar, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

  • Banggar DPR Soroti Target Ambisius RAPBN 2026 di Tengah Tekanan Ekonomi Global

    Banggar DPR Soroti Target Ambisius RAPBN 2026 di Tengah Tekanan Ekonomi Global

    Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, mengungkapkan bahwa pada Juli 2025 lalu, Banggar DPR bersama pemerintah telah menyelesaikan pembahasan awal rancangan postur Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 secara indikatif. Kesepakatan awal tersebut menjadi acuan pemerintah dalam menyusun Nota Keuangan RAPBN 2026 yang akan disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada pertengahan Agustus mendatang.

    Berdasarkan pembahasan tersebut, Said memperkirakan pendapatan negara dalam RAPBN 2026 berada pada kisaran Rp3.094 – Rp3.114 triliun, belanja negara Rp3.800 – Rp3.820 triliun, dan defisit anggaran sebesar 2,53 persen terhadap PDB atau setara Rp706 triliun.

    “Kalau mengacu pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya, biasanya pemerintah akan mengajukan pada batas atas, bukan batas bawah,” ujarnya dalam keterangan tertulis kepada tonggakhukum.com/, di Jakarta, Selasa (12/8/2025).

    Said menuturkan, postur RAPBN 2026 tersebut lebih tinggi dibandingkan prognosis APBN 2025 yang diperkirakan memiliki pendapatan negara Rp2.865,5 triliun—terdiri dari penerimaan perpajakan Rp2.387,3 triliun, penerimaan bukan pajak Rp477,2 triliun, dan penerimaan hibah Rp1 triliun—serta belanja negara Rp3.527,5 triliun. Defisit APBN 2025 sendiri diproyeksikan sebesar Rp662 triliun atau 2,78 persen terhadap PDB.

    Ia mengingatkan, target pendapatan dan belanja negara dalam RAPBN 2026 akan menjadi tantangan besar di tengah kondisi global dan domestik yang penuh tekanan. Di tingkat internasional, dunia usaha harus menyesuaikan diri dengan kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump terhadap banyak negara, ditambah ketidakpastian akibat konflik geopolitik yang berlarut-larut.

    “Di dalam negeri, kita juga belum sepenuhnya memulihkan daya beli masyarakat, terlihat dari melandainya pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Selain itu, pemerintah harus menutup kehilangan penerimaan PNBP sekitar Rp80 triliun akibat revisi UU BUMN yang melahirkan Danantara,” jelasnya.

    Meski demikian, Said menekankan bahwa RAPBN 2026 menjadi modal penting bagi pemerintah untuk melaksanakan program pemulihan daya beli masyarakat, menjaga ekspor tetap ekspansif, dan memperluas pasar baru agar tidak bergantung pada negara tujuan ekspor tradisional.

    Ia menyebut RAPBN 2026 sebagai milestone kedua bagi pemerintahan saat ini untuk merealisasikan program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa dan Kelurahan (Kopdeskel), Sekolah Rakyat, dan pemeriksaan kesehatan gratis. Program-program tersebut dinilainya sebagai “game changer” untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) generasi mendatang.

    “Saat ini, 54 persen angkatan kerja kita hanya lulusan SMP ke bawah. Program-program itu penting untuk mengubah struktur demografi angkatan kerja agar lebih berkualitas dan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri,” tegasnya.

    Said juga mengingatkan bahwa investasi pemerintah melalui APBN saja tidak cukup untuk membiayai pembangunan. Keterlibatan sektor swasta dinilai mutlak diperlukan untuk menggerakkan perekonomian secara lebih ekspansif.

    “Pemerintah perlu memperbanyak skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) di berbagai proyek yang memungkinkan. Investasi swasta menjadi salah satu kunci yang harus terus ditingkatkan ke depan,” pungkas Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.

  • Kejuaraan Catur Piala EBY 2025 Catat Rekor MURI Peserta Terbanyak, IBAS: Satu Langkah Sejuta Strategi

    Kejuaraan Catur Piala EBY 2025 Catat Rekor MURI Peserta Terbanyak, IBAS: Satu Langkah Sejuta Strategi

    Kejuaraan Catur Piala EBY 2025 bertajuk Satu Langkah Sejuta Strategi resmi digelar di GOR Kabupaten Pacitan pada 9–10 Agustus 2025. Ajang bergengsi yang diprakarsai oleh Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas/EBY) ini mencatatkan sejarah baru dengan meraih penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) atas rekor sebagai kejuaraan catur dengan peserta terbanyak di Indonesia.

    Kejuaraan ini mencatat peserta sebanyak 2.108 pecatur. Penghargaan MURI diserahkan langsung oleh perwakilan MURI, Sri Widayati, kepada Edhie Baskoro Yudhoyono (EBY) di GOR Pacitan.

    Dalam sambutannya, Ibas—Wakil Rakyat dari Dapil Jatim VII ini—menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat, termasuk pemerintah daerah, DPRD Kabupaten Pacitan, dan organisasi Percasi.

    “Hari ini adalah momen yang spesial. Bukan hanya untuk Pacitan, tetapi untuk dunia olahraga Indonesia—khususnya catur. Catur bukan hanya permainan, catur adalah olahraga, dan lebih dari itu—catur adalah budaya bangsa,” ujarnya yang disambut tepuk tangan seluruh peserta dan penonton.

    EBY yang juga Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI menegaskan bahwa ajang ini bukan hanya perlombaan, tetapi wadah pembelajaran nilai-nilai strategi, kesabaran, dan perhitungan matang.

    “Dengan semangat kolaborasi, kerja keras, kecintaan untuk berpikir dalam dan strategis, kita semua berkumpul di sini untuk mencetak sejarah. Dua ribu peserta catur, dalam satu hari pertandingan, di Pacitan, tanah yang dimuliakan dengan keindahan dan kecerdasan.”

    “Pacitan – The 70 Miles of Paradise,” katanya.

    Pada acara ini, Edhie Baskoro juga mengundang langsung dari Jakarta Grandmaster Novendra Priasmoro, International Master Masruri Rahman, serta putra Pacitan bergelar FIDE Master, Catur Adi Sagita, untuk memotivasi para peserta dengan mencontohkan tokoh-tokoh catur berprestasi.

    “Mari kita hadirkan perlombaan ini sebagai perayaan: pikiran, strategi, dan sportivitas. Terima kasih, MURI. Terima kasih, Pacitan. Terima kasih, teman-teman pecatur. Terima kasih untuk semua. Selamat berlomba! Kita semua juara!” tuturnya.

    Kejuaraan ini terdiri dari kategori Reguler (Senior, U18, U16, U13, U10) dan Kategori Lokal (U18, U16, U13), dengan total hadiah Rp50 juta. Sebagai bentuk dukungan nyata, Ibas menyerahkan bantuan berupa chess clock kepada atlet muda berprestasi.

    Bantuan ini juga diharapkan dapat menunjang latihan dan meningkatkan kualitas permainan para atlet muda di Pacitan. Setelah membuka acara, tak mau ketinggalan keseruan, EBY juga menonton langsung pertandingan catur antara GM Novendra, IM Masruri dengan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, serta berkeliling melihat peserta bertanding.

    Kejuaraan ini menjadi bukti bahwa Pacitan mampu menjadi tuan rumah event olahraga berkelas nasional. Dengan jumlah peserta yang memecahkan rekor, Ibas optimistis kejuaraan ini akan menjadi agenda rutin yang menginspirasi generasi muda untuk terus berprestasi dan mengharumkan nama daerah.

  • HNW Cup 2025 Jadi Momentum Parlemen Perkuat Semangat Juang dan Persatuan

    HNW Cup 2025 Jadi Momentum Parlemen Perkuat Semangat Juang dan Persatuan

    HNW Cup kembali digelar sebagai momentum untuk memperingati Kemerdekaan RI, Hari Konstitusi, serta HUT MPR dan DPR RI. Ajang turnamen bulu tangkis ini sekaligus untuk menguatkan kembali semangat kebersamaan di lingkungan parlemen.

    Diselenggarakan di tengah masa reses DPR RI, HNW Cup yang digelar pada 11–12 Agustus 2025 ini menjadi sarana efektif untuk merefleksikan kembali nilai-nilai perjuangan bangsa.

    Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI), Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid, MA., menyampaikan bahwa kesehatan fisik adalah fondasi utama yang memungkinkan para pendiri bangsa melahirkan gagasan-gagasan besar dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

    “Para pejuang bangsa dulu adalah orang-orang yang sehat walafiat. Tidak mungkin terjadi perjuangan yang sukses jika mereka tidak sehat. Dengan kesehatan fisik itulah mereka bisa menghadirkan kesehatan pendapat, kesehatan visi, dan kesehatan cita-cita hingga terwujudlah Indonesia Merdeka, NKRI, dan UUD 1945,” ujar Hidayat Nur Wahid di GOR Badminton DPR, Kompleks Senayan, Jakarta, Senin (11/8/2025) pagi.

    Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) dari Dapil DKI Jakarta II itu juga menuturkan, bahwa sebagai pewaris kemerdekaan, adalah kewajiban generasi saat ini, termasuk para anggota parlemen, untuk menjaga kesehatan fisik dan mental agar dapat terus berkontribusi secara produktif bagi negara.

    Pemilihan bulu tangkis sebagai cabang olahraga dalam turnamen ini bukan tanpa alasan. HNW menjelaskan bahwa bulu tangkis adalah salah satu olahraga yang membanggakan nama Indonesia di kancah dunia dan sangat merakyat.

    “Bulu tangkis adalah olahraga yang sangat merakyat, membuktikan bahwa DPR dan MPR tidak terpisah dari rakyat. Kami adalah bagian dari rakyat dan wakil rakyat. Turnamen ini juga menjadi simbol bahwa kami berkomitmen untuk sehat demi melanjutkan perjuangan membangun bangsa,” tegasnya.

    Untuk diketahui, HNW Cup tahun ini adalah penyelenggaraan yang keempat kalinya. Setelah sebelumnya pernah diadakan di tingkat nasional, kini turnamen lebih difokuskan untuk konsolidasi internal guna merekatkan soliditas (ukhuwah) di antara keluarga besar DPR RI dan MPR RI. Dalam pesannya kepada para peserta, HNW menekankan pentingnya sportivitas.

    “Meskipun ini turnamen, esensinya adalah persahabatan. Silakan berkompetisi, jadilah pemenang yang sportif, dan bagi yang belum berhasil, teruslah berlatih untuk tahun depan,” tuturnya.

    Selain itu, menanggapi perkembangan bulu tangkis nasional, Hidayat Nur Wahid mengaku optimistis. Kemenangan pasangan ganda putra dan tunggal putra Indonesia di beberapa turnamen internasional terakhir dianggap sebagai angin segar.

    “Kita sempat prihatin dengan paceklik gelar, namun kemenangan-kemenangan terakhir ini membangkitkan harapan. Semoga HNW Cup di Parlemen ini dapat turut menyemangati para atlet, pelatih, dan PBSI, bahwa bulu tangkis senantiasa menjadi perhatian dan kebanggaan kita semua,” tutupnya.

    Dengan adanya HNW Cup, turnamen ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan penguatan kebersamaan di lingkungan parlemen, tetapi juga sarana untuk meneguhkan semangat juang, menjaga kesehatan, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap prestasi olahraga nasional.

    Melalui kompetisi ini, nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa sekaligus dihidupkan kembali dalam bentuk yang relevan bagi generasi masa kini, bahwa membangun bangsa memerlukan tubuh yang sehat, pikiran yang jernih, dan tekad yang kokoh demi Indonesia yang terus maju dan berprestasi.

  • Lestari Moerdijat: Dorong Upaya Peningkatan Literasi Keuangan Digital Perempuan

    Lestari Moerdijat: Dorong Upaya Peningkatan Literasi Keuangan Digital Perempuan

    Tingkatkan literasi keuangan digital perempuan sebagai bagian dari upaya pemberdayaan untuk mewujudkan kesetaraan.

    “Kemampuan di sisi literasi keuangan digital merupakan salah satu peluang yang harus diambil perempuan untuk merealisasikan kesetaraan,” kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Senin (11/8).

    Data Statistik Telekomunikasi Indonesia tahun 2023 mencatat pengguna internet laki-laki mencapai 72,07%, sedangkan perempuan 66,35%.

    Catatan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), kondisi tersebut diperparah oleh keterbatasan akses informasi, peluang ekonomi, dan stereotip gender yang menganggap perempuan kurang mampu mengelola layanan keuangan digital.

    Sementara itu, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), meskipun 80,5% penduduk Indonesia sudah memiliki akses layanan keuangan, tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan masih relatif rendah, yaitu sekitar 66%.

    Menurut Lestari, kondisi tersebut harus benar-benar dicermati oleh para pemangku kepentingan dalam upaya meningkatkan literasi keuangan digital bagi perempuan.

    Upaya pemberdayaan dari sisi kemudahan akses digital dan literasi keuangan digital, ujar Rerie, sapaan akrab Lestari, harus dilakukan secara konsisten.

    Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI dari Dapil II Jawa Tengah itu berpendapat, peningkatan literasi digital dan keuangan harus menjadi bagian dari upaya pemberdayaan di lingkungan masyarakat, termasuk pemberdayaan perempuan melalui literasi keuangan digital.

    Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu berharap political will para pemangku kebijakan dalam pemberdayaan perempuan melalui peningkatan literasi keuangan digital dapat konsisten dilakukan.

    Hal itu, tambah Rerie, demi mewujudkan kemandirian perempuan dan masyarakat secara luas di tengah gejolak ekonomi global dan nasional yang  terjadi saat ini.

  • Tiga Panglima Pasukan Elite TNI Dilantik, Garda Terdepan Hadapi Kompleksitas Ancaman

    Tiga Panglima Pasukan Elite TNI Dilantik, Garda Terdepan Hadapi Kompleksitas Ancaman

    Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta menyambut baik pelantikan tiga panglima pasukan elite Tentara Nasional Indonesia (TNI) oleh Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, tiga panglima pasukan elite TNI ini merupakan garda terdepan bagi keamanan Republik Indonesia (RI) dari tantangan global yang semakin kompleks.

    “Tiga pasukan elite TNI ini berada di garda terdepan Indonesia dalam menghadapi ancaman yang semakin kompleks,” kata Sukamta dalam rilisnya kepada Parlementaria, di Jakarta, Senin (11/8/2025).

    Diketahui, tiga panglima pasukan elite TNI telah dilantik oleh Presiden RI Prabowo Subianto dalam Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer di Pusdiklatpassus, Batujajar, Bandung, Jawa Barat, Minggu (10/8). Ketiga perwira tinggi yang dilantik adalah Letjen TNI Djon Afriandi sebagai Pangkopassus, Letjen TNI Marinir Endi Supardi sebagai Pangkormar, dan Marsdya TNI Deny Muis sebagai Pangkopasgat.

    Pelantikan ini disebut menjadi momentum bersejarah bagi tiga satuan tempur elite TNI, yakni Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD, Korps Marinir TNI AL, dan Korps Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) TNI AU.Pasalnya, ketiganya akan dipimpin oleh jenderal bintang tiga dan menyandang sebutan ‘Panglima’ pertama kalinya, menggantikan istilah ‘Komandan’ yang selama ini digunakan. Selain tiga panglima pasukan elite, Presiden Prabowo juga melantik Wakil Panglima TNI, Jenderal Tandyo Budi Revita.

    Adapun tantangan yang dihadapi oleh TNI ke depan, menurut Sukamta, di antaranya yakni peningkatkan kemampuan tempur berbasis teknologi mutakhir, termasuk penguasaan drone tempur, siber, dan kecerdasan buatan.

    Kedua, kesiapsiagaan menghadapi ancaman asimetris seperti terorisme, infiltrasi intelijen asing, penyelundupan senjata, dan kejahatan lintas negara memerlukan respon cepat dan presisi tinggi.

    Ketiga, lanjut Sukamta, adalah pengamanan wilayah strategis untuk memastikan kedaulatan di wilayah perbatasan, laut lepas, dan ruang udara dari potensi ancaman eksternal maupun konflik terbuka.

    “Keempat, penguatan operasi gabungan antar matra untuk membangun interoperabilitas darat-laut-udara agar operasi gabungan berjalan efektif dan responsif,” jelas Legislator dari Dapil DI Yogyakarta tersebut.

    Untuk itu, Sukamta memastikan komitmen Komisi I DPR RI dalam memperkuat TNI, termasuk pasukan elite melalui dukungan politik, anggaran, dan kebijakan di parlemen. Ia menekankan bahwa TNI yang kuat adalah TNI yang profesional, modern, dan didukung rakyat.

    “Tantangan global menuntut kita memiliki pasukan elite yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga unggul dalam teknologi dan strategi,” kata Politisi Fraksi PKS ini.

    Pimpinan komisi pertahanan DPR ini pun mengucapkan selamat kepada ketiga panglima pasukan elite TNI yang telah resmi dilantik presiden. Sukamta berharap para Panglima baru dapat membawa pembaruan dan meningkatkan kesiapsiagaan TNI dalam setiap situasi.

    “Atas nama pribadi dan sebagai Wakil Ketua Komisi I DPR RI, saya mengucapkan selamat bertugas,” ucapnya.

    “Semoga amanah besar ini dapat dijalankan dengan penuh dedikasi, menjaga kehormatan TNI, dan selalu mengutamakan kepentingan bangsa di atas segalanya,” tutup Sukamta. 

  • Puan: Kasus Kekerasan terhadap Prada Lucky Harus Jadi yang Terakhir di Tubuh TNI

    Puan: Kasus Kekerasan terhadap Prada Lucky Harus Jadi yang Terakhir di Tubuh TNI

    Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani menegaskan bahwa praktik kekerasan di lingkungan TNI, seperti yang baru-baru ini terjadi Prada Lucky hingga tewas, tidak boleh terulang. Ia menekankan perlunya membangun hubungan senior-junior yang saling menghormati, demi menciptakan iklim pembinaan yang sehat di tubuh TNI.

    “Kejadian seperti ini jangan sampai terulang lagi. Hubungan antara senior dan junior harus didasarkan pada saling hormat dan menghargai, bukan kekerasan,” kata Puan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (11/8/2025)

    Puan mengapresiasi langkah cepat aparat hukum yang telah menetapkan 20 prajurit sebagai tersangka. Ia meminta proses hukum dijalankan dengan adil, transparan, dan tuntas, serta memastikan hukuman yang dijatuhkan memberi efek jera.

    “Kami berharap kasus ini diproses secara adil dan hukuman yang diberikan dapat memberikan efek jera. Mekanisme yang ada juga harus dievaluasi agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.

    Menurut Puan, DPR melalui fungsi pengawasan akan terus memantau perkembangan penanganan perkara tersebut. Ia menilai, evaluasi terhadap prosedur pembinaan dan pelatihan di TNI perlu dilakukan untuk mencegah kekerasan yang kerap berulang dalam relasi senior-junior.

    Sebelumnya, seorang prajurit TNI dilaporkan meninggal akibat penganiayaan yang dilakukan sejumlah seniornya. Polisi Militer telah menetapkan 20 tersangka dan memproses berkas perkara untuk dilimpahkan ke peradilan militer. Kasus ini memicu sorotan publik terhadap mekanisme pembinaan prajurit yang dinilai masih menyisakan praktik kekerasan. 

  • Waka DPR Dorong Pemda Turut Aktif Lindungi Seluruh Pekerja

    Waka DPR Dorong Pemda Turut Aktif Lindungi Seluruh Pekerja

    Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, menegaskan pentingnya peran BPJS Ketenagakerjaan sebagai perangkat negara yang memberikan perlindungan kepada seluruh pekerja, baik formal maupun informal. Hal ini, menurutnya, merupakan amanat langsung dari Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang mewajibkan negara melindungi segenap tumpah darah Indonesia.

    “BPJS Ketenagakerjaan ini hadir sebagai perangkat negara yang memberikan perlindungan. Karena, esensi daripada tugas dan fungsi negara ini sebagaimana amanat daripada pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945, adalah melindungi segenap tumpah darah Indonesia. Jadi, BPJS hadir juga betul-betul jelas menjalankan amanat daripada APBN di negara kita ini, dari konstitusi tadi. Perjalanan BPJS ini, sudah trusted di publik semua, karena bagaimana mengelola keuangan para pekerja dengan jumlah yang begitu banyak sekitar 830 triliun, ini memberikan manfaat kepada masyarakat terutama ditengah sekarang gelombang yang ketidakpastian," ujar Cucun kepada tonggakhukum.com/ usai melakukan kegiatan sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan dengan tema "Kerja Keras Bebas Cemas" di Balai Leo Lang, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin (8/11/2025).

    Ia mencontohkan, bagi pekerja formal yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), terdapat program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) sebagai bentuk perlindungan. Namun, ia menekankan, pekerja informal seperti buruh tani, pedagang, hingga tukang ojek juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan proteksi.

    “Seperti, buruh tani, para pedagang, tukang ojek, itu sebetulnya punya hak. Karena, mereka mendapatkan upah, punya hak mendapatkan proteksi. Tetapi kalau untuk biaya proteksinya tanpa kehadiran tadi, yaitu Pemerintah Daerah, itu pasti kesulitan. Makanya, saya juga mengajak kepada pemerintah-pemerintah daerah, ayo lindungi warganya supaya mereka juga mendapatkan jaminan dalam kehidupan sehari-hari ini tadi. Ini tidak bisa diprediksi, apa yang akan terjadi. Orang usaha sebagai tukang ojek, kemudian kecelakaan, kalau tidak ada yang jamin, nanti kalau dia punya proteksi BPJS Ketenagakerjaan, apalagi ada jaminan kecelakaan, jaminan kematian, mereka punya santunan,” jelasnya.

    Legislator Dapil Jawa Barat ini menegaskan, regulasi terkait perlindungan ini sudah jelas diatur dalam Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Undang-Undang APBN. Bahkan, pemerintah daerah kini memiliki kewenangan menggunakan Dana Alokasi Umum (DAU) untuk membayar premi proteksi bagi masyarakat, baik BPJS Kesehatan maupun BPJS Ketenagakerjaan.

    “Sebetulnya, tidak perlu regulasi. Ini sudah ada Undang-Undang, mengenai Jaminan Kematian (JKM) ini. Tadi yang saya sampaikan, regulasinya sudah jelas, di Undang-Undang (UU) tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) itu sudah dicantumkan bahwa kewajiban negara melindungi atau memproteksi, termasuk para pengusaha,” tegasnya.

    Melalui sinergi pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, dan masyarakat, Politisi Fraksi PKB ini berharap seluruh pekerja Indonesia dapat memperoleh perlindungan sosial yang layak. Sehingga, risiko pekerjaan tidak menjerumuskan mereka ke dalam kesulitan ekonomi yang tidak terduga.

    “Kalau tidak, itu sudah tugas dan fungsi daripada Undang-Undang (UU) tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) tadi. Tidak perlu dengan adanya aturan dibawah lagi. Karena, termasuk di Undang-Undang (UU) APBN yang sudah diputuskan itu. Sekarang, Pemerintah Daerah diberikan kewenangan melalui Dana Alokasi Umumnya (DAU) untuk membayar tadi, yaitu premi proteksi baik BPJS Kesehatan maupun BPJS Ketenagakerjaan,” pungkasnya.